Senin, 09 Februari 2015

Analisis Teks Anekdot

Analisis Anekdot

A.               Menganalisis Anekdot
Analisis anekdot adalah menguraikan teks anekdot berdasar unsur-unsurnya. Dalam menganalisis perlu patokan/panduang yang jelas sehingga hasilnya analisis tersebut terarah.Kriteria analisis cerita anekdot tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Alur
Yaitu rangkaian cerita anekdot dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Alur maju/linear atau alur mundur.
2.      Penokohan
Yaitu pemaparan tokoh-tokoh cerita sesuai karakter masing-masing tokoh.
3.      Latar
Tempat kejadian, waktu kejadian dan suasana yang timbul dalam peristiwa yang dibangun dalam cerita tersebut.
4.      Majas/metafora bahasa yang digunakan
Maksudnya, gaya bahasa kias atau lugas yang digunakan pengarang. Kalau gaya bahasa kias, termasuk majas apa yang digunakan pengarang.
5.      Nilai didik
Yaitu nilai moral, pendidikan apa yang disampaikan oleh pengarang dalam anekdot tersebut.
B.                 Menyunting Anekdot
Menyunting anekdot adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap diterbitkan dengan memperhatikan sistematika penyajian, isi dan bahasa ( misalnya ejaan, diksi,struktur kalimat).Karya yang disunting milik orang lain bukan karya sendiri.

# Langkah-langkah penyuntingan antara lain.
1.      Membaca berkali-kali teks secara keseluruhan
2.      Membetulkan penulisan jika terdapat kesalahan dari segi sistematika dan bahasa.
3.      Mengganti kata-kata yang tepat dan mudah dipahami pembaca.
4.      Menambah atau mengurangi bagia teks yang belum sempurna sesuai draf sebelumnya.
# Hal-hal yang disunting dalam anekdot
1.      Sistematika penyajian sesuai struktur anekdot ( Abstrak,Orientasi, Krisis,Reaksi,Koda).
2.      Isi anekdot, maksudnya apakah isinya sudah sesuai ciri anekdot.
3.      Bahasa, meliputi ejaan, diksi, kata baku, tata kalimat.

C.                 Mengidetifikasi Teks Anekdot
mengidentifikasi berarti menetapkan atau menentukan sesuatu benda orang. Mengidentifikasi anekdot maksutnya menentukan apakah suatu cerita itu sudah sesuai dengan ciri-ciri anekdot.
Kriterian penilaian dalam identifkasi anekdot sebagai vberikut.
1.      Ceritanya lucu atau tidak.\
2.      Ceritanya menyindir untuk hal baik/nasehat atau datar-datar saja.
3.      Ceritanya memiliki unsur menkritik atau tidak, kritikannya santun atau kasar.
4.      Ceritany a berkisar antara orang-orang penting atau tidak.
5.      Ceritanya disajikan dengan tujuan tertentu.
6.      Ceritanya dimaksudkan untuk menghibur.

D.                 Mengabstraksi Teks Anekdot
Mengabstraksi anekdot diartikan sebagai upaya membuat ringkasan cerita anekdot. Tujuan mengabstraksi anekdot adalah untuk memudahkan penafsiran anekdot yang dibaca.Yang ditelaah dalam mengabstraksi anekdot adalah unsur-unsur ceritanya.
Cara mengabstraksi anekdot melalui menjawab pertanyaan di bawah ini.
1.      Apakah anekdot tersebut alurnya jelas? Menggunakan alur apa?
2.      Apakah penokohan dilakukan oleh orang penting atau orang yang biasa yang ditokohkan?
3.      Apakah latarnya sudah dipaparkan dengann lengkap?
4.      Apakah menggunakan majas sehingga cerita tidak menkritik secara kasar?
5.      Apakah cerita itu ada pesan moral/nilai didik bagi pembaca

E.                  Evaluasi Teks Anekdot
Evaluasi anekdot berati memberikan penilain suatu teks anekdot berdasarkan hasil analisis.
Panduanya dengan menjawab pertanyaan berikut ini.
1.      Dilihat dari segi strtuktur dan kaidahnya, apakah anekdot ......bisa dikategorikan sebagai teks anekdot?
2.      Dilihat dari segi unsur-unsurnya apakah anekdot....sudah dapat digolongkan teks anekdot.
Jawaban di atas disertai argumen dan bukti kutipan dalam cerita.

F.                  Mengonversi Teks Anekdot
Mengonversi anekdot adalah mengubah teks anekdot menjadi bentuk lain seperti misalnhya diubah menjadi puisi, monolog, prosa atau naskah drama.
Proses mengonversi teks anekdot dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

1.      Membaca anekdot secara teliti dan menyeluruh.
2.      Mengamati pilihan kata (diksi) yang tepat dalam anekdot.
3.      Mencatat kata-kata yang sulit dipahami maknanya.
4.      Merangkum isi anekdot secara menyeluruh.
5.      Menentukan jenis teks apa yang dipilih untuk konversi anekdot.
6.      Menulis ulang anekdot dalam bentuk lain.
7.      Merevisi bentuk teks baru tersebut agar lebih sempurna


Tugas Kelas XI RPL 1,2,3 dan XI JB




1. Carilah anekdot di surat kabar, google, atau di majalah!
2. Buatlah abstraksi teks anekdot yang telah kamu dapatkan!
3. Buatlah konversi dari anekdot yang kamu dapatkan!
4. Tentukan struktur anekdot tersebut!

Tugas dikumpulkan di lembaran bagi kelas XI RPL 1 dan XI JB
Tugas dikumpulkan via e-mail bagi kelas XI RPL 2 dan 3
Contak Person: gsutrisno141@gmail.com




Minggu, 08 Februari 2015


Teks Anekdot
Struktur,Kaidah & Contoh

     Kalau kita membaca surat kabar atau majalah, di sana ada kolom berita, karikatur, kartun, karikatur, iklan, cerpen, cerbung, tajuk rencana, anekdot dan resensi. Kalau karikatur isinya mengkritik seseorang, politisi, instansi, pengusaha lewat sketsa gambar. Sementara anekdot isinya mengkritik atau menyindir melalui cerita singkat.
Anekdot adalah sebuah teks yang berisi pengalaman seseorang yang mengesankan dengan tujuan menghibur orang lain. Menurut KBBI anekdot diartikan sebagai cerita singkat yang menarik, lucu dan mengesankan yang biasanya mengenai orang terkenal atau lembaga tertentu.

Kriteria anekdot yaitu: 1. lucu atau menarik, 2. mengandung pesan dan berkmakna, 3. tokoh/partisipannya orang terkenal
4. kejadiannya nyata/pernah terjadi.

Struktur Teks anekdot
Struktur anekdot bisa disingkat AOKREK, yaitu, abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan Koda. 1. Abstrak ialah bagian awal
anekdot yang berisi ringkasan cerita yanag akan dipaparkan pada tahap selanjutnya. 2. Orientasi ialah bagian pengenalan situasi,
pemaparan latar belakang terjadinya peristiwa. 3. Krisis ialah bagian yang mengungkapkan masalah unik yang diunculkan dalam
certita. 4. Reaksi ialah bagian cerita yang berisi bagaimana partisipan/pelaku  menyelesaikan masalah itu. 5. Koda merupakan
bagian akhir cerita anekdot, bisa berupa kesimpulan, penentuan akhir partisipan, atau penggambaran kejadian/keadaan
di ujung cerita.

Kaidah kebahasaan anekdot
1. Menggunkan waktu lampau, misalnya ada kata-kata: kemarin, konon, suatu hari, sebermula, sejak       dahulu kala dsb.
2. Menggunakan pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang sudah jelas jawabnya, atau tidak perlu ada     jawaban. Contoh, Mengapa hal ini mesti tejadi? , Bukankah demikian?, Menangiskah dia? Apakah     hanya itu yang bisa kamu lakukan?
3. Menggunakan konjungsi,misalnya, ketika, walaupun, dan, dengan,setelah dsb.
4. menggunakan kata kerja/verba, misalnya, makan, naik, minum, membayar, dsb.
5. Menggunakan kalimat perintah/imperatif,misalnya: Baiklah, naiklah!, Mas, antar saya ke pasar, ya!
Abi S
Contoh Anekdot
ROKOK Dipagi hari,
 Andi berjalan menuju halte, dimana orang-orang ingin mununggu bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Setelah sampai di halte, dia bertanya kepada seorang buruh pabrik yang sedang menunggu Bus Kopaja sambil merokok. Lalu Andi memulai percakapan, “Haduh, tebal dan jorok sekali asap  Bus Mayasari Bakti.” Lalu buruh pabrik itu merespon peryataan Andi, “Iya nih.. asap Kopaja juga tebal.” Lalu Andi membalas, “Bagaimana tanggapan anda jika melihat orang yang menyebabkan polusi lebih dari asap bus itu?” Buruh pabrik itu menjawab, “Hajar aja tuh orang.” Lalu Andi menghajar buruh pabrik itu. Setelah menghajar orang tersebut, Andi memberikan brosur kepada buruh itu. Lalu Andi berjalan tidak jauh dari halte itu, dan menemukan seseorang karyawan swasta yang sedang merokok dan sedang menunggu bis juga. Maka Andi memulai percakapan dengan orang tersebut, “Haduh, tebal sekali asap kendaraan di Jakarta ini, padahal  kendaraan di Jakarta sudah diwajibkan melakukan uji emisi.” Lalu karawan swasta tersebut merespon, “Iya nih, pantas saja terjadi Global Warming .” Andi pun bertanya kembali kepada orang tersebut, “Bagaimana respon anda terhadap orang yang menyebabkan polusi lebih dari kendaraan?” Sang karyawan swasta pun menjawab, “Kalau penyebabnya pabrik, bakar aja. Kalau penyebabnya manusia tampar aja biar dia sadar.” Lalu Andi menampari orang tersebut, dan member brosur kepada orang tersebut. Rupanya brosur tersebut berisi: “ASAP ROKOK MENGANDUNG POLUTAN 10 KALI DARI MESIN DIESEL”

Selasa, 03 Februari 2015

Teks Eksplanasi Kompleks
 Pengertian
Teks eksplanasi kompleks adalah teks yang menjelaskan mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Dengan kata lain teks yang menjelaskan suatu proses terjadinya sesuatu. Contoh : Siklus hidrologi, Terjadinya Longsor, Terjadinya banjir, Terjadinya Badai,Proses pembuatan tahu, proses pembuatan Tape ketan, dsb.

Struktur Teks eksplanasi kompleks
1. Pen jelasan/uraian Umum: isinya penjelasan global sesuatu ayang akan dibahas
2. Penjelasan Proses 9 Urutan sebab daan akibatnya): isinya penjelasan proses bagaimana dan mengapa sesuatu yang dibahas itu bisa terjadi.
3. Penutup: isinya resume dari penjelasan pada bagian sebelumnya

Kaidah Teks Eksplanasi Kompleks
1. Menggunakan nomina/kata benda umum, contohnya: hujan, lumpur, air,tanah, badai tempe
2. Menggunakan kata kerja/Verba, misalnya, berjalan, mengaduk, dipanasi, mengeras,lari dsb.
3. Menggunakan kata tanya,"mengapa" dan "bagaimana" dalam menjelaskan proses terjadinya sesuatu.
4. Menggunakan fakta/kenyataan: air menguap karena kena panas.
5. Menggunakan bentuk kalimat pasif.
    Contoh: Suhu bumi dipengaruhi musim.

Contoh Teks Eksplanasi Kompleks

Cara Membuat Kecap
      Anda pasti sudah pernah mengetahui salah satu bumbu berwarna hitam, pekat sedikit cair,terasa manis atau asin dari kedelai.
Ya, itulah kecap. Kecap merupakan salah satu pelengkap makanan bakso, sop dsb. Kadang ada yang menggunakannya
sebagai obat batuk.






      Cara membuat kecap sangatlah mudah, sama halnya dengan membuat tempe dan tahu, asal sudah mengetahui
urutan proses pembuatannya.Bahan bakunya antara lain kedelai (1 kg), garam (700 gr) gula merah (5 kg), daun jeruk (3 lbr)
daun salam (2 lembar), pokak (1 sendok), air bersih (1,5 liter),jamur tempe (3 gr), Sereh ( 2 batang), laos (13 potong)

Proses Pembuatan
Pilihlah kedelai yang berkualitas bagus, bersih. Setelah itu kedelai dicuci bersih lalu direndam dengan air tawar selama
10-12 jam. Selanjutnya kedelai direbus sampai kulitnya mengelupas.Kedelai didinginkan di atas tampah, kalau sudah dingin
kedelai ditaburi ragi, diaduk merata dan disimpan di ruangan yang bersuhu antara 250 sampai degan 300 derajat Celsius.
Lama penyimpanan antara 3 s.d. 5 hari.
      Setelah disimpan, tambahkan garam lalu adonan ddiamkan selama 3 minggu. Setelah 3 minggu
adonan diberi air bersih dan direbus sampai mendidih. Kemudian adonan disaring untuk memisahkan ampas dan sarinya. Sari kecap
direbus /dimasak lagi bersama bumbu-bumbu lain sesuai rasa yang diharapkan.
      Proses merebus dihentikan jika sudah mendidih dan tidak berbuai. Cairan itu lalu didinginkan dan disaring.
Cairan inilah yang kita sebut kecap.

Majas/Gaya Bahasa

Majas dikelompokkan menjadi 4 kelompok 

A. Majas Pertentangan

Majas pertentangan terbagi menjadi 7 macam, yaitu:1.Hiperbola,2 Litotes,3Ironi.4.Antonomasia
5.Oksimoron,6.Paradoks,7.Kontradiksio
1. Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang mengungkan sesuatu hal dengan cara berlebih-lebihan.
Contoh:
-Pukulan Tyson menggeledek sehingga lawannya jatuh
-Keringatnya menganak sungai.
-Suaranya menggelegar membelah angkasa.
2. Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan.Biasanya untuk menrendahkan diri.
Contoh: 
-Mohon maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air dingin untuk membasahi tenggorokan saja yang ada. 
-Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.
3. Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran.
Contoh:
-Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati. 
-Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.
4. Antonomasia
Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.
Contoh:
  • Sssssttt, lihat! Si Gondrong datang. Kalian tidak perlu bertanya.
  • Macam-macam! Biar si Buncit saja nanti yang menghadapinya.
  • Kemarin saya lihat si Hitam Manis keluar bersama-sama dengan si Kribo. Benar tidak?
5. Oksimoron
Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang mengandung hal-hal yang bertentangan.
Contoh:
  • Memang benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari kesepakatan. Namun tidak jarang menjadi wadah pertentangan para pesertanya.
  • Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau bangsa.
  • Olahraga mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.
6. Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.
Contoh:
  • Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
  • Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di mana-mana, ia bercerita padaku katanya kesepian.
7. Kontradiksio
Kontradiksio adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang sudah dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian.
Contoh:
  • Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri yang bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
  • Malam itu gelap gulita, tanpa kerlip kunang-kunang yang sebentar tampak dan sebentar hilang

  • B. Majas Perbandingan

1. Majas Perumpamaan
Perumpamaan adalah membandingkan  dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja dianggap sama dengan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, laksana, ibarat dsb.
Contoh:
  • Bak mencari kutu dalam ijuk. (Melakukan sesuatu yang mustahil)
  • Bagai kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu)
  • Kata-katanya semanis madu.
  • Sedalam laut.
  • Secantik bidadari.
  • Sesegar udara pagi.
2. Metafora
Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.
Contoh:
  • Beliau terkenal sebagai bunga bangsa.
  • Adelia adalah bunga desa di sini.
  • Kelaparan masih tetap menghantui  rakyat Etiopia
3. Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak.
Contoh:
  • Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh.Angin membisikkan sesuatu di telingaku
  • Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk.
  • Matahari mulai merangkak  ke atas.
  • Kabut tebal menyelimuti desa kami.
4. Alegori
Alegori pada umumnya menganding sifat-sifat moral manusia.
Contoh:
  • Mendayung bahtera rumah tangga. (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga)
C. Majas Pertautan

Majas pertautan dibedakan menjadi:
  1. Metonimia
  2. Sinekdok, terdiri atas:
    • Pars pro toto
    • Totem pro parte
  3. Alusio
  4. Eufemisme
1. Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya.
Contoh:
  • Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
  • Si Jangkung dipakai sebagai sebagai pengganti orang yang mempunyai ciri jangkung.
  • Dia gemar mambaca Kahlil Gibran
2. Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Contoh:
  • Sudah seminggu ini Iwan tidak tampak batang hidungnya. (Padahal yang dimaksud bukan hanya batang hidung)
  • Indonesia berhasil memboyong kembali piala Thomas. (Padahal yang berhasil hanya satu regu bulu tangkis)
  1. Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan. Contoh:
    • Jauh-jauh telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
    • Selama ini kemana saja kau? Sudah lama tak nampak batang hidungmu. Nenek selalu menanyakan kau.
    • Ia harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang harus disuapi.
    • Kita akan mengadakan selamatan sebagai rasa syukur karena kita naik kelas semua. Untuk itu biaya kita tanggung bersama tiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp 1.500,00
  2. Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian saja. Contoh:
    • Dalam musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
    • Dalam pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.
3. Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan.
Contoh:
  • Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
  • Ah, kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)
4. Eufemisme
Eufemisme adalah majas kiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.
Contoh:
  • Orang itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)
  • Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
  • Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan)

D. Majas Perulangan
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.
Bulan lalu uang, kemarin uang, saat ini atau mungkin besok uang yang selalu ditanyakannya.